Sira Lamnga Yang Kini Jadi Kenangan

Lahan garam lamnga yang terendam air laut waktu pasang

Kata kenangan menurut kamus besar Indonesia adalah sesuatu yang membekas diingatan. Kenangan menjadi sesuatu yang membuat kita teringat akan kejadian yang sangat penting yang pernah terjadi. masih jelas dalam ingatan kita Bersama bagaimana dulu sebelum tsunami nama Sira Lamnga begitu terkenal seantero Aceh Besar dan Banda Aceh. Masyarakat yang ingin membeli garam pun tidak akan pernah ragu dengan kualitas dari Sira lamnga ini. Sira Lamnga menjadi garam kebanggan masyarakat kemukiman lamnga pada kala itu.

Nama Sira Lamnga menjadi garam kebanggan masyarakat di Gampong Lamnga yang gampongnya berbatasan dengan Gampong Lam Ujong, Gampong Baro, Gampong Neuhen, Gampong Durong dan Gampong Ladong.  Dulu sebelum tsunami terjadi banyak masyarakat di kemukiman lamnga yang mencari rezeki dengan mengepulkan asap untuk memasak garam. Hamparan puluhan lancang garam pun tidak pernah ada yang terbengkalai dari kegiatan memasak garam. Aktifitas masyarakat lamnga pun tidak pernah jauh-jauh dari memasak garam.

Baca Juga: Tsunami dan Langkanya Petani Garam Di Aceh Besar

Namun, semuanya berbeda setelah tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 menyerang pesisir Lamnga, banyak hamparan lancang garam hilang dan juga petani garam banyak yang meninggal. Puluhan lancang garam yang dulunya menjadi tempat melancang kini banyak yang terbengkalai. Pada saat tsunami terjadi banyak petani garam yang meninggal, hanya beberapa saja yang tersisa. Mereka yang selamat dari kejadian tsunami ini mencoba kembali menekuni profesi sebagai petani garam, namun seusai mereka meninggal tidak ada lagi yang meneruskan usaha untuk kembali menghidupkan nama Sira Lamnga.

Tanpa terasa sudah 16 tahun lamanya tsunami terjadi, namun sampai sekarang nama Sira Lamnga tidak bisa bangkit kembali. Kini nama itu hanya bisa kita dengar kenangannya saja. Bila kita telusuri ke Gampong Lamnga memang sangat susah mencari jambo-jambo yang asapnya mengepul keatas untuk memasak garam. Lahan-lahan yang menjadi tempat untuk menjemur garam pun sekarang sudah banyak yang beralih menjadi tambak-tambak yang lebih menjanjikan.

Tidak banyak petani garam yang bisa kita temui setelah tsunami terjadi, hanya puluhan orang saja dari generasi sebelum tsunami yang mau kembali bergelut dengan panasnya matahari dan asap untuk memasak garam. Masyarakat di Gampong Lam Ujong yang berbatasan langsung dengan Gampong Lamnga, mencoba kembali menghidupkan kembali kepulan asap untuk memasak garam. Mereka kembali melakukan aktifitas memasak garam beberapa tahun setelah tsunami menyerang, dibantu dengan bantuan dari pemerintah pusat melalui Kementrian Kelautan dan Perikanan kini usaha mereka sudah mulai menampakkan hasil.

Proses pembuatan garam tradisional

Pada tahun 2013 petani garam yang tergabung kedalam kelompok usaha kelautan dan perikanan didata kemudian diberikan bantuan modal untuk kembali melanjutkan usahanya dalam memasak garam. Pada tahun-tahun ini proses pembuatan garam masih dilakukan secara tradisional dan hasil garam yang dimasak juga memiliki kualitas yang bagus. Pada tahun-tahun berikutnya bantuan dari pemerintah selalu ada setiap tahunnya karena melihat antusiasme masyarakat dalam melakukan usaha garam.

Baca Juga: Garam Yang Berkualitas dan Halal 

Hal ini membuat kelompok petani garam yang ada di Gampong Lam Ujong menjadi kelompok percontohan untuk pilot project usaha garam dengan menggunakan teknologi geomembrane pada tahun 2017. Penggunaan geomembrane pada proses penjemuran garam bisa digolongkan termasuk baru di Aceh, berbeda hal nya dengan wilayah lain yang ada di Indonesia seperti madura.

Proses pembuatan garam dengan geomembran

Namun dengan cara tersebut proses pembuatan garam jadi lebih mudah dibandingkan dengan menggunakan cara tradisional. Pada proses ini petani garam hanya menunggu airnya memiliki kadar garam yang tinggi (air tua) yang kemudian untuk selanjutnya akan di masak dalam kuali besar sampai menjadi butiran-butiran garam.

Proses yang hanya menunggu air memiliki kadar garam yang tinggi kemudian dimasak dan menghasilkan garam hingga sampai 300 kg/hari dengan harga jual berkisar Rp 5000, mampu menarik minat generasi-generasi tahun 80-90 an untuk ikut meramaikan usaha garam.  Generasi muda penerus usaha garam ini diharapkan mampu untuk kembali membuat nama Sira Lamnga kembali Berjaya seperti sebelum tsunami meluluhlantakkan Namanya.